Filosofi Layangan Pecukan: Simbol Kesabaran dan Penyucian Jiwa di PKB 2026
Filosofi Layangan Pecukan Simbol Kesabaran dan Penyucian Jiwa di PKB 2026/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Di balik bentuk sederhananya, layangan tradisional Pecukan menyimpan filosofi mendalam yang menjadi alasan dihadirkannya dalam Jantra Tradisi Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.
Kepala Bidang Tradisi dan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Putu Sutaryana, menjelaskan bahwa layangan Pecukan dimaknai sebagai simbol perjalanan jiwa manusia menuju kesempurnaan.
“Pecukan itu kita artikan seperti jiwa kita. Betapa susahnya menaikkan layangan pecukan, sama seperti jiwa yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan,” ujarnya.
Sebagai salah satu layangan tradisional tertua di Bali, Pecukan identik dengan warna Tridatu—merah, putih, dan hitam—serta memiliki ekor khusus sebagai penyeimbang saat mengudara.
Meski tampak sederhana, menerbangkan Pecukan membutuhkan keterampilan karena karakternya yang tidak stabil. Filosofi inilah yang dinilai relevan dengan tema Atma Kerthi, yakni pentingnya proses penyucian diri melalui kesabaran, ketekunan, dan pengendalian batin.
***
