10/09/2026

Hari Suci Pagerwesi, Memagari Diri Dengan Cahaya Guru Sejati

dewasa ayu purnama kapitu adalah rainan hindu terakhir di tahun 2023

Ilustrasi by Wikimedia Commons/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Sebagai rangkaian akhir dari perayaan Hari Suci Saraswati, umat Hindu merayakan Hari Suci Pagerwesi pada Budha Kliwon Shinta, (8/4/2026).

Perayaan ini bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan momentum spiritual untuk membentengi diri (magehing awak) dengan ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan oleh Sang Hyang Aji Saraswati.

​Berdasarkan Lontar Sundarigama, Pagerwesi adalah hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sangga.

​Makna Manifestasi: Sang Hyang Pramesti Guru adalah Tuhan dalam wujud Guru Sejati. Beliau memegang kuasa atas Utpatti (penciptaan), Stiti (pemeliharaan), dan Pralina (peleburan), yang dalam aksara suci disimbolkan dengan Ang, Ung, Mang.

Pagerwesi dan Pemuliaan Catur Guru

​Ilmu pengetahuan yang diturunkan melalui para guru harus melembaga untuk mewujudkan kesejahteraan dunia (Jagadhita). Dalam konteks ini, Pagerwesi menjadi pengingat untuk menghormati Catur Guru yakni Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa, dan Guru Swadyaya

​Hari raya Pagarwesi dimaknai sebagai suatu pegangan hidup yang kuat, bagaikan suatu pagar dari besi yang menjaga ilmu pengetahuan dabn teknologi yang sudah digunakan dalam fungsi kesucian dapat di pelihara dan dijaga agar selalu pedoman bagi kehidupan manusia selamanya.

Pengetahuan sejati itulah yang sesungguhnya merupakan “pagar besi” untuk melindungi hidup di dunia ini. Inti dari perayaan pagarwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji, dan memusatkan diri.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE