Hari Suci Pagerwesi, Memagari Diri Dengan Cahaya Guru Sejati
Ilustrasi by Wikimedia Commons/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Sebagai rangkaian akhir dari perayaan Hari Suci Saraswati, umat Hindu merayakan Hari Suci Pagerwesi pada Budha Kliwon Shinta, (8/4/2026).
Perayaan ini bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan momentum spiritual untuk membentengi diri (magehing awak) dengan ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan oleh Sang Hyang Aji Saraswati.
Berdasarkan Lontar Sundarigama, Pagerwesi adalah hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sangga.
Makna Manifestasi: Sang Hyang Pramesti Guru adalah Tuhan dalam wujud Guru Sejati. Beliau memegang kuasa atas Utpatti (penciptaan), Stiti (pemeliharaan), dan Pralina (peleburan), yang dalam aksara suci disimbolkan dengan Ang, Ung, Mang.
Pagerwesi dan Pemuliaan Catur Guru
Ilmu pengetahuan yang diturunkan melalui para guru harus melembaga untuk mewujudkan kesejahteraan dunia (Jagadhita). Dalam konteks ini, Pagerwesi menjadi pengingat untuk menghormati Catur Guru yakni Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa, dan Guru Swadyaya
Hari raya Pagarwesi dimaknai sebagai suatu pegangan hidup yang kuat, bagaikan suatu pagar dari besi yang menjaga ilmu pengetahuan dabn teknologi yang sudah digunakan dalam fungsi kesucian dapat di pelihara dan dijaga agar selalu pedoman bagi kehidupan manusia selamanya.
Pengetahuan sejati itulah yang sesungguhnya merupakan “pagar besi” untuk melindungi hidup di dunia ini. Inti dari perayaan pagarwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji, dan memusatkan diri.
***
