10/09/2026

Purnama Jyesta: Banten, Dewasa Ayu dan Melukat

dewasa ayu purnama kapitu adalah rainan hindu terakhir di tahun 2023

Ilustrasi by Wikimedia Commons/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu kembali menyambut kehadiran Purnama Jyesta, sebuah momentum sakral yang menandai bulan kesebelas dalam kalender Bali. Hari suci ini tiba tepat saat posisi bulan mencapai puncak penuh atau yang dikenal dengan istilah sukla paksa. Kehadirannya membawa energi spiritual yang besar bagi masyarakat untuk melakukan pembersihan diri.

Dalam tradisi sastra agama, khususnya Lontar Sundarigama, Purnama memiliki kedudukan istimewa sebagai hari payogan Sang Hyang Candra. Lontar tersebut menguraikan sebuah ajaran mendalam mengenai keseimbangan alam:

“Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga.”

Pernyataan tersebut menegaskan adanya proses penyucian diri bagi manifestasi Tuhan dalam wujud Sang Hyang Rwa Bhineda, yakni Dewa Matahari dan Dewa Bulan. Saat purnama tiba, Sang Hyang Wulan atau Sang Hyang Candra melaksanakan yoga. Sebaliknya, saat bulan mati atau tilem, giliran Sang Hyang Surya yang melakukan meditasi kosmik tersebut.

Makna Penyucian Lahir dan Batin

Purnama Jyesta adalah waktu yang tepat bagi setiap individu untuk menyelaraskan diri dengan alam semesta. Hari ini merupakan saat yang sangat baik untuk melakukan ritual penyucian diri, baik secara fisik maupun spiritual. Kesucian pikiran (mahening ajnana) menjadi target utama agar manusia kembali ke fitrahnya yang bersih.

Berdasarkan petunjuk sastra suci, seluruh umat wajib melaksanakan pembersihan diri secara total. Kesadaran untuk menyucikan batin ini diwujudkan melalui persembahan tulus kehadapan para dewa. Ritual ini menjadi jembatan spiritual antara hamba dengan Sang Pencipta dalam memohon anugerah dan tuntunan hidup.

Tata Cara Persembahan dan Pemujaan

Keikhlasan dalam berderma menjadi inti dari pelaksanaan hari suci ini. Masyarakat Hindu menghaturkan berbagai bentuk sesajen sebagai simbol rasa syukur dan bakti. Adapun persembahan utama yang wajib disiapkan meliputi:

  • Canang Wangi-wangi: Simbol keharuman pikiran dan ketulusan hati.
  • Canang Yasa: Persembahan yang melambangkan pengendalian diri dan pengabdian.

Prosesi pemujaan dilakukan di tempat suci keluarga (Sanggah) maupun di tempat suci umum (Parahyangan). Setelah rangkaian persembahyangan selesai, umat melanjutkan ritual dengan memohon air suci atau matirta gocara.

Penggunaan bunga yang harum (puspa wangi) juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam prosesi ini untuk menyempurnakan hubungan spiritual dengan manifestasi Tuhan.

Lontar Sundarigama kembali mempertegas kewajiban ini bagi semua lapisan masyarakat:

“Samana ika sang purohita, tkeng janma pada sakawanganya, wnang mahening ajnana, aturakna wangi-wangi, canang nyasa maring sarwa dewa, pamalakunya, ring sanggat parhyangan, laju matirta gocara, puspa wangi.”

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa mulai dari para pemimpin spiritual (purohita) hingga masyarakat umum tanpa terkecuali, hendaknya menenangkan pikiran dan mempersembahkan wewangian serta canang yasa kepada seluruh dewa.

Melalui pemujaan di tempat suci dan memohon air suci, setiap individu berharap mendapatkan pencerahan dan kedamaian dalam menjalani kehidupan di dunia.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE