Rupiah Melemah, Pariwisata Bali Justru Ketiban Untung

Rupiah Melemah, Pariwisata Bali Justru Ketiban Untung/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sektor pariwisata Indonesia justru menangkap peluang emas. Kondisi ini dinilai membuat biaya berlibur wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, khususnya Bali, menjadi jauh lebih terjangkau.
Bali kini memiliki momentum besar untuk memperkuat daya saingnya sebagai destinasi global yang menawarkan pengalaman berkualitas tinggi dengan biaya yang lebih kompetitif.
Pelaku pariwisata sekaligus Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Badung, I Wayan Puspanegara, menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah memberikan keuntungan psikologis dan finansial bagi wisatawan asing.
Dengan nilai tukar yang menguntungkan, wisman mendapatkan nilai lebih (value for money) dari setiap uang yang mereka belanjakan.
”Di satu sisi kita menyambut baik peningkatan daya beli wisatawan. Wisatawan memperoleh lebih banyak manfaat dari uang yang mereka belanjakan selama berlibur di Indonesia,” ujar Puspanegara.
Mencermati fenomena ini, penguatan dolar AS setidaknya membawa angin segar bagi tiga elemen sektor domestik:
Peningkatan Purchasing Power Wisman: Daya beli yang meningkat tajam diproyeksikan akan memperpanjang masa tinggal (length of stay), meningkatkan belanja (expenditure), serta mendongkrak jumlah kunjungan.
Keuntungan Eksportir: Pelaku usaha komoditas ekspor meraup profitabilitas lebih tinggi karena produk mereka dihargai dalam valuasi dolar AS.
Geliat Usaha Money Changer: Sektor penukaran mata uang asing ikut kecipratan untung akibat tingginya lalu lintas transaksi valuta asing.
Meski angin segar berembus kencang, Puspanegara mengingatkan industri pariwisata untuk tidak terlena. Ada tantangan ganda yang membayangi sektor akomodasi seperti hotel, restoran, dan kafe (Horeka).
”Namun di sisi lain, operasional akomodasi (operational cost) di dalam negeri mulai tertekan akibat rembesan dampak inflasi,” tambahnya.
Selain beban biaya operasional yang membengkak, para pelaku industri juga diperingatkan untuk tetap patuh pada regulasi domestik. Seluruh transaksi yang terjadi di dalam negeri ditegaskan wajib menggunakan mata uang Rupiah, sesuai dengan aturan moneter yang berlaku, meskipun target pasarnya adalah wisatawan asing pemilik dolar.
***
