Tidak Hanya Pantai, di Tempat ini Juga Bisa Digunakan untuk Banyupinaruh
Tirta Empul di Gianyar menjadi salah satu tempat tujuan melaksanakan tradisi melukat di Bali/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di Bali merayakan Banyu Pinaruh tepat satu hari setelah hari raya Saraswati. Ritual ini jatuh pada Redite Paing Wuku Sinta dan menjadi rangkaian penutup yang krusial dari peringatan turunnya ilmu pengetahuan.
Secara harfiah, Banyu Pinaruh berasal dari akar kata Wruh yang bermakna mengetahui atau pengetahuan, sehingga momen ini sering dimaknai sebagai upaya mendapatkan “air pengetahuan.”
Makna Spiritual Melukat di Sumber Mata Air
Pagi buta setelah hari Saraswati, masyarakat berbondong-bondong mendatangi pantai, sungai, atau sumber mata air suci (kelebutan) untuk melakukan prosesi Banyu Pinaruh. Ritual mandi suci ini bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah metode penyucian diri atau pembersihan diri secara lahir dan batin.
Dalam teologi Hindu, panglukatan Banyu Pinaruh berfungsi menyucikan dua dimensi eksistensi:
- Bhuana Agung: Alam semesta atau makrokosmos.
- Bhuana Alit: Tubuh manusia atau mikrokosmos.
Prosesi ini melambangkan pembersihan sisa-sisa kegelapan pikiran agar siap menerima cahaya ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan oleh Dewi Saraswati pada hari sebelumnya.
Mantra dan Doa Penataran Banyu Pinaruh
Saat melakukan prosesi penyucian diri, umat melafalkan doa khusus untuk memohon kesempurnaan fisik dan jiwa. Mantra ini menjadi inti dari niat untuk menyerap khasiat spiritual dari air tersebut.
Teks Mantra:
Om, Ang Çarira sampurna ya namah swaha.
Terjemahan dan Esensi:
Mantra tersebut mengandung makna mendalam mengenai permohonan agar tubuh dan jiwa menjadi sempurna. Fokus utamanya adalah menyerap sari-sari pengetahuan ke dalam diri melalui media air suci.
Relevansi Ilmu Pengetahuan dalam Siklus Kalender Bali
Hari Raya Saraswati sendiri diperingati setiap 210 hari sekali berdasarkan perhitungan Kalender Bali. Momen ini merupakan Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, sebuah bentuk penghormatan tertinggi kepada Dewi Saraswati sebagai personifikasi ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan.
Banyu Pinaruh memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak hanya tersimpan secara teoritis di dalam pikiran, tetapi juga mampu membersihkan watak dan perilaku manusia melalui simbolisme air.
Dengan melakukan ritual ini, umat Hindu mengawali siklus wuku yang baru dengan kondisi diri yang bersih dan pikiran yang jernih.
***
