10/09/2026

KACATRI: Transformasi Eksistensial Made Wiradana dari Lukisan Primitif Menuju Estetika Rerajahan Bali

KACATRI Transformasi Eksistensial Made Wiradana dari Lukisan Primitif Menuju Estetika Rerajahan Bali

KACATRI Transformasi Eksistensial Made Wiradana dari Lukisan Primitif Menuju Estetika Rerajahan Bali/ balikonten

MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Menjalani kehidupan sebagai manusia Bali berarti hidup di dalam lapisan-lapisan pengalaman yang kompleks, di mana persinggungan antara kehidupan personal dan ruang sosial-religius tidak pernah benar-benar terpisahkan. Realitas niskala (tidak kasatmata) kerap hadir sebagai panggilan swadharma (tugas kehidupan) yang tidak dapat dipilih, melainkan harus diterima sebagai jalan pengabdian atau jan banggul—penghubung antara alam sekala dan niskala. Pengalaman empiris ditakdirkan inilah yang disebut sebagai kacatri.


Momen krusial ini mendasari pameran tunggal seniman kontemporer terkemuka, Made Wiradana, bertajuk “KACATRI”. Dikuratori oleh I Made Susanta Dwitanaya, pameran ini resmi dibuka di Griya Santrian Art Gallery, Sanur, yang berlangsung mulai 10 Juli hingga 30 Agustus 2026. Sebanyak 19 karya lukis terbaru dipajang, menandai fase transformasi terdalam sepanjang karier sang seniman.

Tahun 2024 menjadi titik balik eksistensial bagi Made Wiradana. Lulusan ISI Yogyakarta tahun 1995 sekaligus mantan pemimpin Sanggar Dewata Indonesia (periode 2000–2020) ini, menerima panggilan leluhur untuk menjadi seorang pemangku (pemimpin spiritual) di pura lingkungan desanya.

Peristiwa ini membawa Wiradana masuk ke dalam fase liminality—fase ambang di mana identitas lamanya sebagai seniman profesional bernegosiasi dengan identitas barunya sebagai pemangku. Alih-alih berhenti melukis, kedua peran ini justru hidup berdampingan dan saling memengaruhi.

Sebelumnya, Wiradana dikenal luas lewat kekuatan garis spontan, intuitif, serta figur-figur naif bertema primitif yang mengingatkan pada lukisan gua purbawi penuh mitos dan imajinasi. Namun kini, ketika raganya harus ngayah—memimpin ritual, menulis aksara suci, menyiapkan sarana upacara, hingga menghaturkan persembahan (yadnya)—tubuhnya merekam memori prosedural baru. Pengalaman ritualistik yang intens tersebut perlahan mentransformasi sumber pengalaman visualnya ke atas kanvas.
Maestro Seni, Profesor I Made Bandem, yang membuka pameran ini secara langsung, memberikan apresiasi mendalam terhadap fase mutakhir Wiradana. Prif. Bandem mengenang konsistensi Wiradana sejak awal berkarier yang memilih jalur profesional murni dan menolak mentah-mentah pakem estetika Barat (seperti teknik pencahayaan, tekstur, dan material konvensional Barat) demi menemukan jati diri yang unik, mistik, dan primitif.

Prof. Made Bandem menyoroti adanya dinamika predicament—suatu kebimbangan, isu, sekaligus situasi tarik-menarik spiritual yang dialami Wiradana saat ini.

“Sekarang ada tuntutan lain sebagai pemangku. Satu, pengetahuannya beda (jnana pemangku) mengenai sastra, mantra, dan upacara (yadnya). Kedua, ada sesana (disiplin) di mana beliau harus mengikuti betul Tri Kaya Parisudha: berpikir jernih, berbicara baik, dan berlaku baik, serta tunduk mengalahkan Sad Ripu (enam musuh dalam diri). Di satu saat ia harus merenung, memeditasi, dan bereksplorasi di studio, di saat lain harus menjadi pemangku yang disiplin di masyarakat,” ujar Prof. Bandem.

Menariknya, Prof. Bandem memuji keputusan artistik Wiradana yang tidak terjebak menjadi seniman kaligrafi murni setelah mempelajari aksara suci modre Bali. “Beliau mempelajari sastra Bali, modre. Harusnya menjadi kaligrafi, tapi beliau tetap tidak. Semua figur mistis yang unik itu diolah lagi menjadi energi baru melalui proses push and pull (tarik menarik) antara pemangku dan seniman. Ini hebatnya di situ.”

Dalam sesi wawancara, Made Wiradana mengakui dirinya kini benar-benar “kecantol” dan jatuh hati dengan seni rerajahan sejak tahun 2024 akibat profesi dan kesehariannya sebagai pemangku. Jika dahulu karyanya berkutat pada tema gua layang-layang, kini inspirasi utamanya bersumber dari simbol-simbol rerajahan Bali yang sakral.

“Di Bali, rerajahan dibuat untuk pengobatan, pengulap-ulap di pura, tugu karang, atau taksu. Saya melihat guratan garisnya, walaupun sederhana buatan orang dulu, tapi benar-benar menyentuh karena dibuat dengan rasa dan kejujuran hati, bukan disablon. Karakter mistik, rupa, dan simbolnya sangat luar biasa jika dibawa ke ranah seni rupa,” ungkap Wiradana.

Meskipun beralih tema, Wiradana menegaskan bahwa karakter dasar dan benang merah lukisannya tidak hilang. Teknik yang ia gunakan tetap kontemporer.
“Secara teknik, pameran kali ini menggunakan warna yang lebih sederhana. Karakter garisnya dibentuk di atas kanvas menggunakan kain ber-blot/plot, lalu disapu dengan palet hingga menyerupai lulur demi mengejar karakter magis rerajahan itu. Ini tingkat kesulitannya lebih tinggi.”

Sifat mistik karya-karya terbaru Wiradana terasa hidup dan seolah “berbicara”. Wiradana membeberkan bahwa proses kreatifnya kini tidak lagi menentu dan kerap didorong oleh desakan intuisi batin di waktu-waktu sunyi.
“Kadang-kadang saya tidur, lalu bangun jam 2 malam langsung melukis karena ide itu harus segera dilewatkan (dituangkan) ke kanvas agar tidak hilang. Saya memang lebih banyak bekerja malam hari demi mencari suasana yang lebih sunyi.”

Persiapan pameran ini diakui telah dirancang sejak dua tahun lalu, bermula dari kunjungan Bapak Dolar ke kediamannya yang menyadari adanya perubahan arah visual yang signifikan pada karya Wiradana.

Melalui pameran “KACATRI“, publik disuguhkan bukti nyata bahwa studio dan pura bukanlah dua ruang yang terpisah, melainkan dua wajah dari bentuk pengabdian yang sama. Karya-karya mutakhir Wiradana menampilkan kecenderungan mandalik (memusat atau menyebar asimetris yang harmonis) di mana ikon rerajahan dan aksara suci menjelma menjadi ritme visual, energi rupa, dan taksu yang merekam laku spiritualnya yang jujur di antara dunia sekala dan niskala.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE