13/09/2026

Penjelasan Tentang Tilem Katiga, Lengkap dengan Banten yang Digunakan

makna dan penjelasan tentang tilem sasih kedasa, cocok untuk dewasa ayu melukat

ilutrasi umat Hindu sedang melakukan persembahyangan/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Tilem Katiga merupakan salah satu hari suci dalam penanggalan Hindu Bali yang memiliki makna spiritual mendalam. Tilem pada Sasih Katiga ditujukan sebagai waktu pemujaan kepada Dewa Siwa, dengan pelaksanaan persembahyangan yang secara tradisi dilakukan pada malam hari, terutama ketika memasuki tengah malam.

Pada saat Tilem, umat Hindu dapat melaksanakan persembahyangan di Pura, Sanggah, Merajan, maupun tempat suci lainnya. Persembahyangan menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menjaga kesucian lahir dan batin.

Dalam pelaksanaannya, sarana upacara atau banten disesuaikan dengan tradisi, desa kala patra, serta tata cara yang berlaku di masing-masing wilayah. Canang dan berbagai sarana persembahyangan digunakan sebagai wujud bhakti dan persembahan kepada manifestasi Tuhan.

Makna Tilem dalam Kehidupan Umat Hindu

Hari Tilem datang setiap 30 hari sekali atau satu kali dalam satu bulan, sama seperti hari Purnama. Dalam satu tahun, umat Hindu akan melewati 12 kali Purnama dan 12 kali Tilem sesuai dengan perhitungan sasih.

Purnama dan Tilem memiliki waktu yang berbeda dalam peredarannya. Purnama jatuh ketika bulan berada dalam keadaan penuh atau dikenal dengan Sukla Paksa. Sementara itu, Tilem berlangsung pada saat bulan mati atau Kresna Paksa.

Kedua hari suci tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan keagamaan umat Hindu. Purnama dan Tilem dimaknai sebagai momentum untuk melakukan pemujaan, introspeksi, penyucian diri, serta meningkatkan kesadaran spiritual.

Dasar Pemujaan Purnama dan Tilem dalam Sundarigama

Makna Purnama dan Tilem juga dijelaskan dalam lontar Sundarigama. Di dalamnya terdapat ajaran mengenai pemujaan Sanghyang Rwa Bhineda, termasuk Sanghyang Surya dan Sanghyang Candra.

Berikut kutipan sloka yang berkaitan dengan Purnama dan Tilem:

“Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda, makadi, Sanghyang Surya Candra, atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga, yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika, para purahita kabeh tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana, ngaturang wangi-wangi, canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar, Parhyangan, matirtha gocara puspa wangi”.

Sloka tersebut menggambarkan pentingnya pelaksanaan pemujaan pada saat Purnama dan Tilem. Umat dianjurkan untuk menenangkan pikiran, memusatkan kesadaran, serta menghaturkan persembahan berupa sarana suci, termasuk canang dan bunga yang harum.

Ajaran tersebut juga menunjukkan bahwa hari suci memiliki kedudukan penting sebagai ruang untuk memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan Sang Pencipta.

Sasih yang Memiliki Makna Khusus dalam Purnama dan Tilem

Dalam siklus satu tahun, terdapat beberapa Sasih yang memiliki makna dan pelaksanaan keagamaan khusus bagi umat Hindu. Setiap Sasih mempunyai karakteristik pemujaan dan rangkaian yadnya yang berbeda.

Sasih Kapat

Pada Purnama Sasih Kapat, pemujaan ditujukan kepada Bhatara Parameswara sebagai Sang Hyang Purusangkara. Pemujaan tersebut diiringi kehadiran para Dewa, Widyadara, Widyadari, serta para Rsi Gana.

Sementara pada Tilem Kapat dilakukan upaya penyucian batin melalui persembahan yang ditujukan kepada Widyadara dan Widyadari. Momentum ini menjadi bagian dari penguatan kesadaran spiritual serta usaha menjaga kesucian diri.

Sasih Kepitu

Purwaning Tilem Sasih Kepitu memiliki kedudukan khusus karena berkaitan dengan perayaan Hari Raya Suci Siwa Ratri. Pada malam tersebut, Sang Hyang Siwa diyakini melakukan yoga.

Siwa Ratri juga dikenal sebagai malam peleburan dosa. Umat Hindu menjadikan malam suci ini sebagai waktu untuk melakukan perenungan, pengendalian diri, dan meningkatkan kesadaran terhadap perjalanan hidup serta perbuatan yang telah dilakukan.

Sasih Kesanga

Tilem Sasih Kesanga berkaitan dengan penyucian para Dewata. Dalam pelaksanaannya terdapat ajaran Bhuta Yadnya yang diwujudkan melalui Tawur Agung Kesanga.

Rangkaian upacara tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Hindu, khususnya dalam menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Sasih Kedasa

Purnama Sasih Kedasa digunakan sebagai waktu pemujaan terhadap Sang Hyang Sunya Amerta di Sad Kahyangan Wisesa.

Pada Sasih Kedasa pula dilaksanakan Piodalan Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih. Rangkaian tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam kehidupan spiritual umat Hindu, terutama dalam tradisi keagamaan di Bali.

Sasih Sadha

Pada Purnama Sasih Sadha, umat Hindu melaksanakan pemujaan kepada Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan.

Pemujaan terhadap leluhur memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat Hindu. Tradisi tersebut mencerminkan penghormatan terhadap asal-usul keluarga dan ikatan spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Banten dalam Persembahyangan Tilem

Banten menjadi sarana penting dalam pelaksanaan yadnya dan persembahyangan umat Hindu. Dalam konteks Tilem Katiga, penggunaan banten dapat mengikuti tata cara yang berlaku sesuai dengan tradisi setempat, kemampuan, serta ketentuan adat dan keagamaan.

Canang menjadi salah satu sarana yang umum digunakan dalam persembahyangan. Selain itu, bunga dan sarana suci lainnya dapat dihaturkan sebagai bentuk rasa bhakti dan ketulusan.

Setiap unsur dalam banten memiliki nilai simbolis yang berkaitan dengan ajaran Hindu. Karena itu, penyusunan dan penggunaan sarana persembahyangan tidak semata-mata dipandang sebagai pelaksanaan ritual, melainkan sebagai bagian dari penghayatan spiritual.

Dalam praktiknya, umat dapat mengikuti arahan pemangku, sulinggih, atau tokoh agama di wilayah masing-masing untuk memastikan jenis banten yang digunakan sesuai dengan tata upacara yang berlaku.

Tujuan Pelaksanaan Yadnya pada Hari Suci

Purnama dan Tilem menjadi bagian dari siklus hari suci yang terus dijalankan umat Hindu. Setiap pelaksanaan yadnya mengandung tujuan untuk membangun kehidupan yang selaras, menjaga kesucian batin, dan memperkuat hubungan spiritual.

Yadnya juga menjadi jalan untuk menghayati nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pemujaan dan persembahan yang dilakukan dengan ketulusan, umat diarahkan untuk mencapai kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan.

Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Hindu yang dikenal melalui ungkapan:

“Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.”

Ajaran tersebut mengandung makna bahwa tujuan dharma adalah mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia sekaligus menuju moksa. Pelaksanaan hari suci, termasuk Tilem Katiga, menjadi bagian dari perjalanan spiritual umat Hindu dalam menjalankan nilai-nilai tersebut.

Tilem Katiga dengan demikian menjadi momentum bagi umat untuk memperkuat bhakti kepada Dewa Siwa, melakukan perenungan, serta menjaga kesucian pikiran dan perilaku. Melalui persembahyangan dan yadnya yang dilaksanakan sesuai tuntunan agama dan tradisi setempat, nilai spiritual hari suci dapat terus diwariskan dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE