Usai Saraswati, Umat Melaksanakan Pagerwesi dan Inilah Rangkaiannya
Ketahui pantangan dalam rainan Pagerwesi/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Suci Saraswati yang dirayakan setiap 210 hari sekali pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, dimaknai sebagai turunnya ilmu pengetahuan suci (widya) dari Tuhan/Dewi Saraswati untuk membebaskan manusia dari kebodohan (avidya).
Hari Suci Saraswati adalah momentum bagi umat manusia untuk melakukan jeda kosmik, memberikan penghormatan kepada Dewi Saraswati sebagai simbol kearifan yang abadi.
Namun, Saraswati bukanlah sekadar perayaan satu hari, ia adalah sebuah simfoni transformasi diri yang terangkai dalam lima tahap pembersihan spiritual dan intelektual.
1. Saniscara Umanis Watugunung (Saraswati)
Saraswati dimaknai sebagai turunnya ilmu pengetahuan suci. Hari suci ini menandai anugerah pengetahuan suci agar manusia terbebas dari kebodohan (avidyam).
Pada hari ini, umat memuja Dewi Saraswati sebagai manifestasi Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) sebagai pelindung dan pelimpah kecerdasan serta sastra.
2. Redite Paing Sinta (Banyu Pinaruh)
Banyu Pinaruh merupakan hari penyucian diri lahir batin bagi umat Hindu di Bali, yang jatuh sehari setelah Hari Raya Saraswati. Maknanya adalah membersihkan kegelapan pikiran (awidya) dengan air ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
3. Soma Pon Sinta (Soma Ribek)
Secara bahasa, Soma Ribek berarti “Senin Penuh Anugerah”, dimaknai sebagai hari yang penuh karunia atau amerta. Umat Hindu memuja Sang Hyang Sri Amrta yang bersemayam di lumbung (tempat penyimpanan padi).
Soma Ribek juga dimaknai sebagai sebuah refleksi bahwa ilmu pengetahuan yang matang akan mendatangkan kemakmuran.
4. Anggara Wage Sinta ( Sabun Mas)
Secara filosofis, rahina Sabuh Mas juga masih berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan yang telah diturunkan saat Hari Raya Saraswati. Artinya, emas dan harta benda yang dimiliki hari ini bisa didapat karena ilmu pengetahuan yang telah dipelajari.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan, Anggara Wage, sabuh mas ngaran, pasucian Bhatara Mahadewa, pakertinia ring raja berana emas manik, mwang sarwa mula ratna manik. Artinya , pada hari Anggara Wage, disebut dengan Sabuh Mas.
Merupakan hari yang disucikan untuk memuja Bhatara Mahadewa, dengan jalan melakukan upacara Agama, terhadap harta benda kakayaan, yaitu manik dan segala manikam.
5. Buda Kliwon Sinta (Pagerwesi)
Secara harfiah, “Pagerwesi” berarti pagar besi simbol kekuatan dan perlindungan spiritual.
Pengetahuan tanpa iman adalah bahaya; maka Pagerwesi adalah momen memperkuat benteng spiritual agar ilmu yang didapat tetap berada di jalan dharma.
***
