10/09/2026

Tumpek Krulut: Hari Kasih Sayang Ala Bali yang Menyelaraskan Ritual, Seni, dan Aksi Sosial

I Kadek satria, S.Ag. M.Pd.H Penyuluh Agama Kemenang Kabupaten Buleleng

I Kadek satria, S.Ag. M.Pd.H Penyuluh Agama Kemenang Kabupaten Buleleng/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Perayaan Rahina Tumpek Krulut yang jatuh setiap 6 bulan sekali tepatnya pada Saniscara Kliwon wuku Krulut, tidak hanya sekadar tradisi rutin, melainkan momentum mendalam untuk menguatkan rasa kasih sayang (prema) yang berlandaskan keharmonisan. Berbeda dengan konsep kasih sayang modern seperti Valentine, Tumpek Krulut di Bali menyatukan ranah ritual, filosofi seni, hingga aksi nyata dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Penyuluh Agama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Buleleng, I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H., menjelaskan bahwa kata Krulut berasal dari lulut atau kelulut asih, yang bermakna kasih sayang yang lahir dari keharmonisan. Konsep ini secara mendalam disimbolkan melalui upacara dan penyucian sarana kesenian gambelan.

“Tumpek Krulut diidentikkan dengan hari kasih sayang karena kata lulut, yaitu kasih sayang atau prema yang muncul dari keharmonisan. Konsep kemanusiaannya adalah keserasian antara manusia satu dengan manusia lainnya,” ujar I Kadek Satria.

Ia menambahkan, hal inilah yang membedakan Tumpek Krulut dengan kasih sayang ala barat atau Valentine.
“Konsep ini agak berbeda dengan Valentine atau kasih sayang secara modern yang tidak memiliki ritual khusus. Di Bali, kasih sayang diwujudkan secara utuh melalui ritual penyucian, penyelarasan dengan alam, dan aksi nyata,” tegasnya.

Dalam tradisi Bali, simbol keharmonisan itu divisualisasikan melalui suara instrumen gambelan. Membunyikan dan menyucikan sarana kesenian ini mengajarkan bahwa perbedaan karakter justru menciptakan keindahan jika disatukan dalam irama yang teratur.

Setiap jenis gambelan memiliki penjiwaan filosofis tersendiri. Semara Pegulingan menyimbolkan unsur kelembutan dan rasa kasih (semara), Beleganjur menyimbolkan semangat yang tegas dan keras. Gender menyimbolkan kehalusan rasa, dan Gong Gede menyimbolkan kegembiraan dan keceriaan.

“Kalau gambelan itu berbunyi sendiri-sendiri, tentu tidak indah. Tapi kalau berbunyi bersamaan secara ritme yang teratur, ia menjadi lembut dan indah. Perbedaan itu sesungguhnya adalah keceriaan, dan ketika disatukan, muncul keindahan yang melahirkan keharmonisan serta prema atau kasih sayang,” jelas Kadek Satria.

Tidak berhenti pada tataran teori dan ritual di pura atau tempat suci, refleksi Tumpek Krulut menuntut pembuktian melalui interaksi sosial sehari-hari. Hubungan harmonis harus dibangun terlebih dahulu dari lingkup terkecil. Kadek Satria menekankan pentingnya membangun keserasian di tingkat keluarga, lingkungan kerja, hingga organisasi.

“Nilai sosialnya bisa kita mulai dengan menjalin hubungan harmonis di keluarga dulu, tempat kerja, dan tempat bersosialisasi. Caranya sederhana,duduk bersama, menggelar family gathering, berdiskusi, serta mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, apa yang kurang, dan apa yang perlu diperbaiki,” paparnya.

Lebih lanjut, dalam ajaran Weda ditegaskan bahwa seluruh manusia hidup dalam satu bumi yang sama sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, rasa empati saat suka maupun duka wajib diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Perwujudan kasih sayang yang hakiki adalah dengan memberikan perhatian langsung kepada masyarakat di lingkungan terdekat, seperti mereka yang sedang sakit di rumah sakit, anak-anak di panti asuhan, para petani, hingga para pekerja harian.

“Kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan yang hidup bersama, sehingga mesti saling menjaga. Perhatikan mereka yang ada di rumah sakit, di panti asuhan, para petani, dan pekerja harian di lingkungan terdekat kita. Ini adalah salah satu bentuk nyata aplikasi dari ajaran Tuhan,” pungkasnya.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE